Ribuan warga memadati Masjid Al-Umary saat perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi. Tradisi kurban massal di Kelayu menjadi simbol gotong royong, silaturahmi, dan penghormatan terhadap warisan TGH Umar Kelayu.
LOMBOK TIMUR, WNN.CO.ID – Perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi di Desa Kelayu, Kelurahan Selong, Kabupaten Lombok Timur, kembali berlangsung meriah dan penuh makna.
Tak hanya menjadi momentum ibadah, Hari Raya Kurban tahun ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi dan menjaga tradisi gotong royong yang telah diwariskan turun-temurun.
Ribuan warga memadati Masjid Al-Umary untuk melaksanakan Salat Idul Adha.
Setelahnya, suasana semakin semarak dengan prosesi penyembelihan hewan kurban secara massal yang telah menjadi tradisi masyarakat Kelayu selama puluhan tahun.
Tahun 2026 ini menjadi pelaksanaan kurban massal ke-26 di Masjid Al-Umary. Sebanyak 40 ekor sapi disembelih sebagai hewan kurban yang seluruhnya berasal dari swadaya masyarakat.
Ketua Panitia Ibadah Kurban Masjid Al-Umary, Muhammad Yani QH, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan rasa syukur atas tingginya antusiasme warga dan para mudhohi yang mempercayakan ibadah kurban mereka melalui panitia masjid.
“Alhamdulillah, tahun ini Masjid Al-Umary kembali menyembelih 40 ekor sapi kurban yang terkumpul dari masyarakat secara swadaya. Ini menjadi bukti nyata bahwa semangat berbagi dan kepedulian sosial warga Kelayu masih sangat tinggi,” ujarnya di sela kegiatan kurban, Rabu (27/5/2026).
Panitia mencatat, jumlah mustahiq atau penerima daging kurban tahun ini mencapai 3.543 orang. Rinciannya, 2.053 warga berasal dari Kelayu Selatan dan 1.490 lainnya dari Kelayu Utara.
Sementara itu, jumlah pekurban mencapai 280 orang yang berasal dari warga Kelayu, baik yang menetap di kampung halaman maupun yang tinggal di luar daerah.
“Memasuki tahun ke-26 pelaksanaan kurban, alhamdulillah tradisi ini tetap bertahan sebagai simbol kebersamaan dan jiwa gotong royong yang diwariskan para pendahulu,” lanjut Yani.
Tradisi kurban massal ini juga menarik perhatian warga Kelayu yang merantau.
Salah satunya Ema, warga asal Kelayu yang kini tinggal di Mataram. Ia mengaku sengaja pulang kampung untuk ikut berkurban bersama masyarakat di Masjid Al-Umary.
“Saya sengaja pulang untuk ikut berkurban di Masjid Al-Umary. Selain karena saya asli Kelayu, saya juga ingin merayakan lebaran bersama keluarga dan sanak saudara,” kata Ema.
Menurutnya, tradisi kurban massal di Kelayu memiliki nuansa kebersamaan yang kuat dan layak dipertahankan.
“Acara berkurbannya keren. Di sini selalu terbanyak setiap tahun. Semoga tradisi ini terus ada dan tetap lestari,” ujarnya.
Merawat Warisan TGH Umar Kelayu
Bagi masyarakat Kelayu, kegiatan kurban di Masjid Al-Umary bukan sekadar agenda tahunan.
Tradisi ini juga menjadi bagian dari upaya merawat warisan spiritual dan perjuangan ulama kharismatik Nusantara, Tuan Guru Umar Kelayu atau Datok Umar.
Masjid Al-Umary dikenal memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan sosok TGH Umar Kelayu, yang dikenal sebagai salah satu ulama besar di Tanah Sasak sekaligus memiliki pengaruh dalam jaringan ulama Makkah-Nusantara pada masanya.
Nama “Al-Umary” yang disematkan pada masjid tersebut menjadi simbol penghormatan atas sanad keilmuan, nilai persatuan, dan semangat pengabdian umat yang diwariskan sang ulama.
“Melaksanakan ibadah kurban dan bergotong royong di masjid ini memiliki ikatan emosional dan spiritual yang kuat bagi kami. Ini adalah tempat ibadah yang dirintis oleh Datok Umar sebagai simbol persatuan umat,” ujar M. Saleh, warga Kelayu yang hadir menyaksikan penyembelihan hewan kurban.
Selama ini, Masjid Al-Umary dikenal sebagai pusat kegiatan ibadah dan sosial masyarakat yang mampu mempersatukan warga tanpa memandang golongan maupun organisasi kemasyarakatan.
“Ini adalah cara kami merawat kebersamaan, kekompakan, dan menghormati sejarah besar beliau sebagai tokoh agama yang disegani,” tutupnya.(wnn02)







