Oleh: Samianto, Presiden Forum Kebangsaan |
DI TENGAH berbagai tantangan ekonomi dan naik-turunnya harga kebutuhan pokok, ketahanan pangan sering dipandang sebagai pekerjaan besar yang hanya bisa diwujudkan melalui kebijakan pemerintah atau proyek berskala nasional.
Padahal, semangat membangun kemandirian pangan justru dapat lahir dari ruang-ruang sederhana yang dekat dengan masyarakat, termasuk dari sebuah mushalla.
Itulah yang sedang diperlihatkan Mushalla Baiturrahman.
Rumah ibadah ini tidak hanya menjadi tempat umat bersujud dan memperkuat spiritualitas, tetapi juga mulai bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat melalui budidaya ikan lele.
Sebuah langkah sederhana, namun sarat makna, yang menunjukkan bahwa ibadah dan ikhtiar sosial dapat berjalan beriringan.
Semangat tersebut diwujudkan melalui kerja sama gotong royong para pengurus mushalla yang tergabung dalam program SIMPONI.
Dipimpin langsung Ketua Dewan Kemakmuran Mushalla (DKM) bersama imam besar, mereka bahu-membahu membangun kolam budidaya lele berukuran panjang lima meter, lebar satu meter, dan kedalaman sekitar 80 cm.
Hanya dalam satu hari, mulai pukul 07.00 hingga 17.30 WIB, kolam berkapasitas sekitar 1.000 ekor lele itu berhasil diselesaikan.
Pemandangan halaman mushalla pun berubah. Lahan yang sebelumnya kosong kini memiliki fungsi baru sebagai ruang produktif yang bukan hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga menjadi simbol lahirnya harapan baru bagi masyarakat sekitar.
Di sela lantunan azan yang menenangkan, air di dalam kolam mulai mengalir pelan. Bukan sekadar menampung air, melainkan merawat benih kehidupan.
Di sanalah ketahanan pangan mulai disemai, bukan melalui pidato atau slogan, melainkan lewat kerja nyata yang dilakukan secara bersama-sama.
Pilihan membudidayakan ikan lele juga bukan tanpa pertimbangan. Lele dikenal sebagai komoditas yang relatif mudah dipelihara, memiliki tingkat adaptasi tinggi, pertumbuhan cepat, serta nilai ekonomi yang menjanjikan.
Dengan modal yang tidak terlalu besar, hasil panennya dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein bagi masyarakat maupun dijual kembali untuk mendukung keberlangsungan program.
Skema yang dibangun pun mencerminkan konsep ekonomi berkelanjutan. Panen pertama dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi bersama, sementara hasil panen berikutnya menjadi sumber pendapatan yang diputar kembali sebagai modal pembelian bibit, pakan, hingga mendukung berbagai aktivitas sosial dan pendidikan keagamaan di mushalla, termasuk pembinaan anak-anak yang belajar mengaji.
Lebih dari sekadar menghasilkan ikan, program ini mengajarkan nilai penting tentang kemandirian. Mushalla tidak lagi hanya menjadi tempat menerima sedekah, tetapi mulai menunjukkan bahwa rumah ibadah juga mampu melahirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi jamaahnya.
Inilah wajah baru pemberdayaan umat yang patut diapresiasi.
Ketahanan pangan ternyata tidak selalu harus dimulai dari hamparan sawah yang luas atau proyek bernilai miliaran rupiah.
Terkadang, perubahan besar justru berawal dari sepetak halaman, kolam sederhana, semangat gotong royong, dan keberanian untuk memulai.
Di tengah situasi ekonomi yang terus berubah, langkah kecil seperti ini merupakan bentuk nyata dari optimisme. Bukan retorika. Bukan sekadar wacana. Melainkan aksi konkret yang menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.
Program seperti yang dilakukan Mushalla Baiturrahman juga selaras dengan agenda nasional dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat.
Karena itu, inisiatif ini layak mendapatkan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk dunia usaha melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Dalam konteks tersebut, PT PLN Energi Gas memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis. Dukungan melalui program TJSL tidak semata berupa bantuan fasilitas atau modal usaha, tetapi juga pendampingan, pelatihan, penguatan kelembagaan, hingga pengembangan model pemberdayaan ekonomi berbasis rumah ibadah yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
Kolaborasi antara masyarakat dan BUMN akan melahirkan dampak yang jauh lebih luas. Rumah ibadah tidak hanya menjadi pusat pembinaan spiritual, tetapi juga menjadi pusat ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan penguatan solidaritas sosial.
Pada akhirnya, Mushalla Baiturrahman telah memberikan pelajaran penting bahwa membangun Indonesia tidak selalu dimulai dari langkah-langkah besar.
Perubahan sering kali lahir dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan niat tulus dan semangat kebersamaan.
Semoga kolam lele itu tidak hanya menghasilkan ribuan ikan, tetapi juga melahirkan ribuan inspirasi. Sebab, ketika rumah ibadah mampu menjadi pusat kemandirian masyarakat, sesungguhnya di situlah ketahanan pangan nasional sedang bertumbuh—dimulai dari lingkungan terkecil, lalu mengalir menjadi gerakan yang lebih besar bagi Indonesia yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.(*)







