MATARAM, WNN.CO.ID – Monumen Bumi Gora merupakan salah satu simbol keberhasilan Presiden RI kedua, HM Soeharto (Pak Harto) dalam mengembangkan padi sistem tanam Gogo Rancah (Gora) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Monumen Bumi Gora tersebut dibangun persis di tengah-tengah Taman Udayana, Kota Mataram, NTB. Monumen Bumi Gora itu diresmikan Presiden kedua RI, Soeharto pada 1988 lalu.
Monumen itu berbentuk sebuah batu besar dan dikelilingi dinding dengan relief yang menggambarkan perkembangan petani dan pertanian, khususnya padi dan nelayan.
Monumen tersebut menjadi simbol kebanggaan warga NTB, khususnya Lombok. Sekaligus menjadi saksi bisu bagaimana masyarakat NTB dahulu berhasil mengembangkan padi dengan sistem tanam Gogo Rancah (Gora) di masa Pemerintahan Presiden Soeharto.
‘’Sebagaimana yang tertulis di batu itu, pembangunan monumen ini dianggap sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan NTB dalam menanam padi Gogo Rancah (Gora) dan dapat membantu usaha pencapaian swasembada pangan nasional pada tahun 1984 lalu,’’ kata salah seorang warga Dasan Sari Ampenan, Akhyar, kepada media ini, Minggu (10/9/2023).
Sistem tanam Gogo Rancah, kata Akhyar, merupakan salah satu inovasi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal, khususnya di NTB. Terbukti dari keberhasilan para petani NTB yang menjadi salah satu penyumbang terbanyak atas swasembada beras pada 1984 silam.
Akhyar menjelaskan, pencapaian swasembada beras pada masa orde baru itu, menjadi indikator keberhasilan sektor pertanian di daerah ini.
Keberhasilan sistem Gora pun menjadi kebanggaan Gubernur NTB pada masa itu, H Gatot Suherman (1978-1988). Bahkan ikut serta mendampingi Presiden Soeharto menghadiri undangan FAO (Food Agricultur Organization) di Roma, lantaran keberhasilan swasembada pangan pada 1984.
‘’Pak Harto juga dulu pernah datang ke sini (Lombok) untuk panen raya di Desa Truwai, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Serta panen bawang di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur tahun 1987 silam,’’ ujarnya.
Akhyar mengakui, Monumen Bumi Gora NTB ini sempat tidak terurus. Hingga akhirnya berpindah tangan dikelola oleh Dinas Perkebunan Provinsi NTB. Barulah ditata ulang kembali dan dibersihkan relief-relief hingga batu besar monumen itu dicat ulang dengan warna dasar.(wnn06)







