Menuju Episentrum Kesehatan Baru di Timur NTB
KOTA BIMA, WNN.CO.ID — Arah baru layanan kesehatan di Pulau Sumbawa mulai terlihat nyata. Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin bersama Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal turun langsung meninjau pengembangan RSUD Kota Bima, pada Jumat (27/2/2026).
Kunjungan ini bukan seremoni simbolik. Pemerintah pusat dan daerah memastikan peningkatan fisik, pengadaan alat kesehatan, hingga penguatan sumber daya manusia berjalan sesuai standar nasional peningkatan kelas rumah sakit. Targetnya ambisius namun terukur: menjadikan RSUD Kota Bima sebagai pusat rujukan strategis wilayah timur Nusa Tenggara Barat (NTB).
Langkah ini merupakan bagian dari agenda besar pemerataan layanan kesehatan di Pulau Sumbawa. RSUD Kota Bima diproyeksikan naik menjadi rumah sakit Tipe C, sementara RSUD H.L. Manambai Abdul Kadir diperkuat menjadi Tipe B.
Saat masa kampanye, pasangan Iqbal–Dinda menjanjikan akses kesehatan yang lebih adil bagi masyarakat Kabupaten Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima. Kini, komitmen itu bergerak dari panggung politik menuju realisasi kebijakan.
Selama bertahun-tahun, pasien dengan kasus jantung intervensi, kemoterapi kanker, hemodialisis, hingga patologi anatomi harus menempuh perjalanan ratusan kilometer ke Mataram. Dalam kondisi sakit, perjalanan laut dan darat bukan hanya melelahkan—tetapi juga berisiko secara medis dan finansial.
Transformasi RSUD Kota Bima hadir sebagai koreksi atas ketimpangan tersebut. Dengan populasi sekitar 5,66 juta jiwa, NTB menghadapi beban penyakit yang tidak ringan.
Data provinsi menunjukkan: Kanker: 83–192 ribu DALY per tahun, Stroke: 80–118 ribu DALY, Tuberkulosis: 72–140 ribu DALY, Stunting: ±131 ribu DALY, Penyakit jantung: 40–69 ribu DALY.
Kerugian ekonomi akibat penyakit diperkirakan mencapai Rp18–25 triliun per tahun. Angka ini menegaskan satu pesan penting: kesehatan bukan sekadar isu sosial, melainkan fondasi produktivitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Bagi generasi sekarang, ini berarti satu hal sederhana namun krusial—akses layanan kesehatan yang cepat dan berkualitas menentukan masa depan yang lebih produktif.
Sebelum penguatan, RSUD Kota Bima memiliki 98 tempat tidur untuk melayani sekitar 166.992 jiwa, dengan tujuh poliklinik rawat jalan serta ICU dan NICU yang masih terbatas.
Ke depan, kapasitas ditargetkan meningkat menjadi sekitar 230 tempat tidur, lengkap dengan: 14 poliklinik rawat jalan, ICU, NICU, dan ICVCU, Instalasi Bedah Sentral, Laboratorium komprehensif, IGD modern berbasis sistem zonasi.
Peralatan medis unggulan yang disiapkan meliputi cathlab untuk intervensi jantung, CT Scan, mamografi, C-Arm, echocardiography, hingga fasilitas hemodialisis dan kemoterapi yang lebih aman.
Modernisasi fasilitas ini dibarengi penguatan tenaga spesialis — dari onkologi, urologi, bedah saraf, neurologi intervensi, hingga anestesi dan terapi intensif. Sistem diagnostik pun diperkuat dengan PCR, immunology analyzer, blood chemical analyzer, dan EEG.
Transformasi ini menegaskan bahwa peningkatan kelas rumah sakit bukan sekadar administratif, tetapi berbasis kesiapan klinis dan mutu layanan.
Pasca penguatan, pemerintah menargetkan: Rasio tempat tidur mendekati 1,44 per 1.000 penduduk, Tingkat keterisian tempat tidur (BOR) terkendali sekitar 75%, Waktu tunggu pasien lebih singkat, Pengurangan rujukan ke Mataram, Efisiensi biaya kesehatan regional.
Dengan penguatan RSUD Kota Bima dan RSUD H.L. Manambai Abdul Kadir, Pulau Sumbawa diarahkan memiliki sistem rujukan regional yang lebih mandiri, cepat, dan efisien.
Transformasi ini membawa pesan kebijakan yang kuat: layanan kesehatan tidak boleh terpusat di satu pulau. Akses setara adalah hak seluruh warga, termasuk masyarakat di wilayah timur NTB.
Langkah ini mungkin belum menyelesaikan semua tantangan, tetapi arahnya jelas—mendekatkan layanan, mempercepat penanganan, dan membangun sistem kesehatan yang lebih adil. Bagi masyarakat Pulau Sumbawa, ini bukan sekadar proyek pembangunan rumah sakit.
Ini tentang harapan baru. Bahwa layanan kesehatan berkualitas kini semakin dekat—lebih cepat, lebih modern, dan lebih manusiawi.(wnn012)







