Perundungan di sekolah masih menjadi perhatian. SMAN 5 Mataram memperkuat Program Sekolah Ramah Anak untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif.
MATARAM, WNN.CO.ID – Isu perundungan (bullying) di lingkungan sekolah kembali menjadi perhatian. SMAN 5 Mataram menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif melalui penguatan Program Sekolah Ramah Anak (SRA).
Fenomena bullying di sekolah ini disebut masih muncul dalam berbagai bentuk—mulai dari ejekan, pengucilan, hingga tekanan sosial yang sering terjadi secara terselubung. Ironisnya, perilaku yang kerap dianggap sekadar “candaan” justru menjadi pintu masuk bagi perundungan yang berdampak serius bagi kondisi psikologis siswa.
Guru Bimbingan dan Konseling (BK), Abdul Khalid, menegaskan bahwa dampak bullying tidak bisa dianggap remeh. Menurutnya, selain mengganggu proses belajar, korban berpotensi mengalami penurunan rasa percaya diri, kecemasan, hingga trauma jangka panjang.
“Perundungan sering tidak terlihat secara langsung, tetapi dampaknya sangat besar. Ini yang menjadi perhatian utama kami di sekolah,” ujarnya.
Sebagai langkah preventif, sekolah terus mengoptimalkan implementasi Program Sekolah Ramah Anak. Program ini berfokus pada penciptaan lingkungan pendidikan yang aman, bebas kekerasan, serta menjunjung tinggi nilai toleransi, empati, dan komunikasi sehat antarwarga sekolah.
Dalam praktiknya, layanan BK menjadi ujung tombak dalam mendeteksi dan menangani kasus. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif melalui edukasi berkelanjutan kepada siswa.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi. Salah satunya adalah minimnya kesadaran sebagian siswa terkait dampak bullying, serta anggapan bahwa perilaku tersebut merupakan bagian wajar dari dinamika pergaulan remaja.
Selain itu, latar belakang sosial siswa yang beragam juga menjadi faktor yang memerlukan pendekatan lebih adaptif berbasis empati dan penguatan karakter.
Untuk menjawab tantangan tersebut, sekolah memperkuat kolaborasi antara guru BK, wali kelas, dan guru mata pelajaran.
Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan iklim belajar yang lebih kondusif sekaligus membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menghormati sesama.
Berbagai upaya edukasi pun terus digencarkan, mulai dari kegiatan pembinaan, konseling, hingga pendekatan persuasif yang relevan dengan karakter generasi muda saat ini.
Ke depan, pihak sekolah berharap langkah ini tidak hanya mampu menekan angka perundungan, tetapi juga membangun budaya sekolah yang lebih humanis—di mana setiap siswa merasa aman, dihargai, dan memiliki ruang untuk berkembang secara optimal.
Program Sekolah Ramah Anak pun ditegaskan bukan sekadar program formal, melainkan bagian dari transformasi budaya pendidikan menuju lingkungan yang sehat secara psikologis dan sosial.(wnn02)







