Wagub NTB, Indah Dhamayanti Putri menegaskan AI dapat membantu pekerjaan administratif birokrasi, namun tidak akan mampu menggantikan peran pemimpin dalam mengambil keputusan, membangun kepercayaan, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.
MATARAM, WNN.CO.ID – Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) yang kian pesat dinilai akan mengubah banyak aspek tata kelola pemerintahan. Namun di tengah gelombang transformasi digital tersebut, kepemimpinan manusia tetap menjadi elemen yang tidak tergantikan.
Pesan itu disampaikan Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, saat membuka Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XIII Tahun 2026 di Aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi NTB, Selasa (2/6/2026).
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Muhammad Taufiq dan dihadiri sejumlah kepala daerah serta pejabat pemerintahan dari berbagai wilayah di NTB.
Sebanyak 61 peserta mengikuti pelatihan strategis tersebut. Mereka berasal dari berbagai instansi, mulai dari Kementerian Desa, Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi NTB, hingga pemerintah kabupaten dan kota se-NTB.
Dalam sambutannya, perempuan yang akrab disapa Umi Dinda itu menyoroti cepatnya perubahan yang sedang terjadi di tingkat global.
Selain disrupsi teknologi dan perkembangan AI, pemerintah juga dihadapkan pada tantangan geopolitik, ancaman krisis pangan dan energi, hingga dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan masyarakat.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut birokrasi untuk bergerak lebih adaptif dan tidak lagi hanya berfokus pada pekerjaan administratif.
“Birokrasi tidak boleh lagi hanya bekerja secara administratif. Pemimpin harus mampu membaca perubahan, membangun inovasi, dan menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat,” tegasnya.
Umi Dinda mengakui bahwa pemanfaatan teknologi digital dan AI telah membawa banyak manfaat bagi sektor pemerintahan.
Teknologi mampu membantu analisis data, mempercepat pelayanan publik, serta mengotomatisasi berbagai pekerjaan rutin di lingkungan birokrasi.
Meski demikian, ia menegaskan ada satu aspek yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin, yakni kepemimpinan manusia.
Menurutnya, kemampuan mengambil keputusan dalam situasi yang penuh ketidakpastian, membangun kepercayaan publik, menyatukan beragam kepentingan, serta menggerakkan perubahan membutuhkan kualitas kepemimpinan yang tidak dimiliki AI.
“AI mungkin dapat menggantikan banyak pekerjaan administratif, tetapi tidak akan pernah menggantikan kemampuan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan, membangun kepercayaan, dan menyatukan berbagai kepentingan untuk tujuan yang lebih besar,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Gubernur NTB juga menyampaikan apresiasi atas kembali digelarnya PKN Tingkat II di NTB setelah vakum selama delapan tahun.
Ia menilai momentum ini menjadi peluang penting untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan para pejabat pemerintah daerah agar lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Kepada para peserta, Umi Dinda berpesan agar tidak berhenti belajar meskipun telah memiliki pengalaman panjang di birokrasi.
“Pengalaman adalah modal yang sangat berharga, tetapi tantangan masa depan membutuhkan pemimpin yang terus belajar, beradaptasi, dan berani melakukan terobosan,” katanya.
Selain menekankan pentingnya inovasi, Umi Dinda juga mendorong peningkatan peran perempuan dalam kepemimpinan birokrasi.
Ia berharap peserta perempuan mampu menunjukkan kapasitas terbaik sekaligus menjadi inspirasi bagi lahirnya lebih banyak pemimpin perempuan di masa mendatang.
Menurutnya, kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan kompetensi, tetapi juga kemampuan membangun kepercayaan serta memberikan pengaruh positif bagi lingkungan kerja dan masyarakat.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa penguatan kapasitas kepemimpinan birokrasi menjadi kebutuhan penting untuk mendukung agenda pembangunan NTB, mulai dari pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan, hingga pengembangan pariwisata berkualitas.
Agenda tersebut, lanjutnya, sejalan dengan visi pembangunan nasional yang diusung Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui program Astacita.
Menutup sambutannya, Umi Dinda berharap PKN Tingkat II Angkatan XIII mampu melahirkan pemimpin birokrasi yang adaptif, inovatif, dan mampu menerjemahkan visi pembangunan menjadi program yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar birokrat yang mampu menjalankan aturan, tetapi pemimpin yang mampu membaca perubahan, membangun kolaborasi, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat,” pungkasnya.(wnn02)







