MATARAM, WNN.CO.ID – Pembangunan daerah tak lagi cukup hanya mengandalkan kebijakan. Di era sekarang, inovasi berbasis riset dan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama untuk menciptakan solusi yang nyata dan berkelanjutan.
Hal inilah yang terus didorong oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui berbagai program inovatif yang langsung menyasar kebutuhan masyarakat.
Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Aryadi, menegaskan bahwa inovasi yang dikembangkan tidak berhenti di tataran konsep, tetapi harus bisa diterapkan dan memberikan dampak nyata.
“Kami tidak hanya fokus pada riset, tapi bagaimana hasilnya bisa langsung dimanfaatkan masyarakat secara luas,” tegas Gede Aryadi, di Gedung BRIDA NTB, Rabu (8/4/2026).
Sejumlah inovasi unggulan kini tengah dikembangkan BRIDA NTB, di antaranya: Teknologi pengolahan air lindi di Kebon Kongok, Prototipe biodigester sebagai sumber gas rumah tangga, Aplikasi efisiensi kebutuhan obat “Rossi Mandalika”, Pengembangan kurma di lahan kering, Produk kosmetik berbasis riset lokal, Mesin industri untuk IKM yang mampu bersaing di pasar global.
Tak hanya itu, BRIDA juga mendorong konversi kendaraan listrik dengan meningkatkan kompetensi bengkel SMK. Program ini melengkapi inisiatif sebelumnya berupa pembagian gerobak listrik gratis bagi UMKM.
Dari total 139 inovasi yang telah dikembangkan, sebanyak 38 inovasi di antaranya telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan terbukti memberikan dampak ekonomi.
Inovasi tersebut bahkan sudah digunakan secara luas oleh masyarakat, menunjukkan bahwa pendekatan berbasis riset memang efektif dalam menjawab kebutuhan riil di lapangan.
Selain itu, BRIDA juga menggandeng perguruan tinggi dan tenaga ahli dalam riset sosial budaya, seperti penelitian olahraga tradisional Peresean, yang berbasis data dan kebutuhan masyarakat.
“Kalau ingin kebijakan pembangunan berhasil, maka harus berbasis riset dan data,” tegas Gede Aryadi.
Secara kelembagaan, capaian BRIDA NTB juga cukup impresif. Di mana, Indeks Inovasi Daerah: 73,25 (kategori Sangat Inovatif), Indeks Daya Saing Daerah: 3,53 (di atas rata-rata nasional 3,50).
Meski demikian, masih ada tantangan pada sektor dinamika bisnis, terutama dalam penguatan teknologi informasi dan infrastruktur.
Untuk tahun 2026, BRIDA NTB telah menyiapkan sejumlah agenda strategis, antara lain: Sayembara inovasi bagi peneliti muda, Pengembangan lanjutan gerobak listrik, Pembangunan laboratorium kultur jaringan kurma Rinjani, Riset stunting dan evaluasi program MBG, Peningkatan teknologi pengolahan limbah lindi, Pelatihan industri (CNC, cutting, bending, printing), Pembentukan dewan pakar inovasi.
Atas kinerja dan kontribusinya, BRIDA NTB berhasil meraih Apresiasi BRIDA/BAPPERIDA Optimal 2025 dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Oktober 2025.
Penghargaan ini menjadi bukti peran strategis BRIDA dalam mengintegrasikan riset ke dalam kebijakan pembangunan daerah berbasis bukti (evidence-based policy).
Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, NTB menunjukkan bahwa inovasi bukan sekadar jargon—melainkan fondasi utama menuju pembangunan yang lebih inklusif, modern, dan berdaya saing global.(wnn01)







