TOKYO, WNN.CO.ID — Presiden Prabowo Subianto kembali menggeber diplomasi ekonomi Indonesia di Jepang. Setelah mengamankan komitmen investasi jumbo lebih dari Rp380 triliun sehari sebelumnya, Presiden Prabowo melanjutkan langkah strategis dengan bertemu 13 pimpinan perusahaan besar Jepang, di Tokyo, pada Selasa siang (31/3/2026).
Pertemuan ini menjadi bagian penting dari upaya Indonesia memperkuat kerja sama investasi strategis, terutama dalam mendorong hilirisasi industri—agenda prioritas nasional yang dinilai krusial untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkokoh posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Sejumlah nama besar hadir dalam pertemuan tersebut, termasuk pimpinan dari Toyota Motor Corporation, Mitsubishi Corporation, hingga Panasonic Group, bersama perusahaan-perusahaan strategis lintas sektor lainnya.
Adapun 13 tokoh industri yang hadir meliputi: Takayuki Ueda (INPEX), Nobumitsu Hayashi (Japan Bank for International Cooperation/JBIC), Yoshinobu Tsutsui (Keidanren), Masayuki Omoto (Marubeni Corporation), Kenichi Hori (Mitsui & Co. Ltd.), Kosuke Uemura (Sojitz Corporation), Shingo Ueno (Sumitomo Corporation).
Selain itu, Christophe Weber (Takeda Pharmaceutical Company), Shinichi Sasayama (Tokyo Gas Co. Ltd.), Kenta Kon (Toyota Motor Corporation), Katsuya Nakanishi (Mitsubishi Corporation), Yuki Kusumi (Panasonic Group), dan Keita Ishii (Itochu Corporation).
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo secara langsung mengajak para investor Jepang untuk memperluas investasi di Indonesia, terutama pada sektor hilirisasi industri.
Fokus ini dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja.
Tak hanya itu, Presiden Prabowo juga menegaskan komitmen pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif. Ia memastikan berbagai hambatan investasi akan ditangani secara cepat, responsif, dan transparan guna memberikan kepastian berusaha.
Langkah ini sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai mitra strategis Jepang dalam jangka panjang—dengan kerja sama yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memperkuat stabilitas rantai pasok global di tengah dinamika geopolitik dunia.
Dengan pendekatan yang lebih progresif dan terbuka terhadap investasi, Indonesia tampak semakin serius mengunci peran sebagai pusat industri baru di kawasan Asia.(wnn01)







