MATARAM, WNN.CO.ID — Momentum unik terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun ini. Perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu beririsan dengan malam takbiran menjelang Idul Fitri bagi umat Islam.
Menghadapi situasi tersebut, Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal mengajak seluruh masyarakat menjaga semangat toleransi, kebersamaan, dan saling menghormati.
Pesan itu disampaikan Gubernur Iqbal melalui Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kadis Kominfotik) NTB sekaligus Juru Bicara Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, Ahsanul Khalik, di Mataram, Ahad (15/3/2026).
Menurut AKA—sapaan akrab Ahsanul Khalik—Gubernur Iqbal menilai masyarakat NTB sejak lama hidup dalam tradisi toleransi yang kuat, di mana setiap pemeluk agama saling memberi ruang untuk menjalankan ajaran dan ritual keagamaan masing-masing.
“Toleransi di NTB bukan sekadar slogan. Ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Momentum beririsan antara Nyepi dan Idul Fitri justru bisa menjadi contoh bagaimana harmoni dijaga bersama,” ujar AKA menyampaikan pesan Gubernur Iqbal.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB menegaskan tidak ada larangan bagi pelaksanaan pawai ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi maupun pawai takbiran menjelang Idul Fitri.
Kedua kegiatan keagamaan tersebut tetap dapat dilaksanakan seperti biasa, dengan tetap memperhatikan ketertiban, kesepahaman bersama, serta koordinasi antar pihak terkait.
Di Kota Mataram, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram bersama tokoh agama Hindu dan Islam, panitia ogoh-ogoh, panitia takbiran, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta aparat keamanan telah melakukan sejumlah pertemuan koordinasi.
Beberapa kesepakatan yang dihasilkan meliputi pengaturan tata tertib kegiatan, jumlah peserta termasuk pembatasan peserta dari luar daerah, pengaturan rute pawai, serta ketepatan waktu pelaksanaan.
Pengamanan juga akan dilakukan aparat keamanan, termasuk Bhabinkamtibmas dan Babinsa, sejak peserta mulai bergerak dari lingkungan masing-masing hingga kegiatan berakhir.
Koordinasi serupa juga dilakukan di sejumlah wilayah lain di NTB, seperti Lingsar dan Narmada di Kabupaten Lombok Barat, serta Kabupaten Sumbawa dan beberapa daerah lainnya yang juga menyelenggarakan kegiatan serupa.
AKA menambahkan, Gubernur menilai masyarakat NTB telah menunjukkan kedewasaan dalam kehidupan beragama dengan saling memberi ruang bagi pelaksanaan ibadah masing-masing.
Umat Islam, misalnya, memberikan ruang bagi umat Hindu untuk melaksanakan rangkaian Hari Raya Nyepi yang diawali dengan pawai ogoh-ogoh dan dilanjutkan dengan Catur Brata Penyepian.
Sebaliknya, umat Hindu juga menghormati pelaksanaan malam takbiran dan Salat Idul Fitri yang menjadi bagian penting dari perayaan Idul Fitri umat Islam.
“Kehidupan masyarakat NTB yang saling menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing agama merupakan kekuatan sosial yang harus terus kita jaga,” kata AKA.
Gubernur Iqbal juga mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk ikut menjaga suasana kondusif selama rangkaian perayaan keagamaan berlangsung.
Peran tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat desa dan kelurahan, hingga kepala lingkungan dinilai sangat penting dalam menjaga suasana yang teduh dan damai di tengah masyarakat.
Selain itu, generasi muda juga diharapkan memperkuat komunikasi dan kebersamaan agar setiap kegiatan berjalan aman, tertib, dan penuh semangat persaudaraan.
“Kita ingin menunjukkan kepada seluruh Indonesia bahwa masyarakat NTB hidup dalam kebersamaan, saling menghargai, dan saling menjaga satu sama lain. Tidak ada ajaran agama yang mengajarkan konflik karena perbedaan,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan masyarakat, Gubernur Iqbal dijadwalkan menghadiri langsung pelepasan pawai ogoh-ogoh umat Hindu di Kota Mataram.
Pemprov NTB juga terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar.
Pengamanan kegiatan akan didukung oleh Polri dengan dukungan TNI serta pemerintah daerah guna mengantisipasi berbagai potensi gangguan dan memastikan seluruh kegiatan berlangsung aman dan tertib.
Pemprov NTB berharap momentum beririsan antara Nyepi dan Idul Fitri ini justru semakin memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan masyarakat NTB, sekaligus menjadi contoh kehidupan beragama yang harmonis bagi daerah lain di Indonesia.(wnn01)







