LOMBOK TIMUR, WNN.CO.ID — Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga panggung keterbukaan kebijakan. Pada hari pertama Safari Ramadan, Bupati Lombok Timur (Lotim), H. Haerul Warisin, secara lugas menyoroti pemangkasan dana transfer pusat sebesar Rp402 miliar—angka yang dinilai berdampak signifikan bagi pembangunan daerah.
Pernyataan itu disampaikan saat membuka rangkaian Safari Ramadan di Masjid Jami’ Ali Jabir, Desa Toya, Kecamatan Aikmel, Senin (23/2/2026), di hadapan ratusan jamaah yang memadati masjid dalam suasana khidmat.
Bupati yang akrab disapa Bupati Iron mengungkapkan bahwa pemotongan tersebut mencakup penarikan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk sejumlah sektor strategis. “Sekarang semuanya ditarik oleh pusat. Sudah tidak ada yang namanya DAK,” ujarnya.
Pemangkasan ini bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Dampaknya menyentuh langsung sektor pendidikan, sistem irigasi pertanian, hingga pembangunan infrastruktur jalan—tiga pilar utama yang menopang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Lombok Timur.
Di tengah dinamika fiskal nasional yang terus berubah, kondisi ini menjadi ujian tersendiri bagi pemerintah daerah. Namun, alih-alih mengambil posisi menunggu, Pemkab Lombok Timur memilih pendekatan proaktif.
Bupati Iron menegaskan komitmennya untuk “menjemput bola” ke kementerian terkait guna memastikan hak dan kebutuhan daerah tetap diperjuangkan. Langkah ini mencerminkan model kepemimpinan yang adaptif—bergerak cepat, responsif terhadap situasi, dan tidak bergantung sepenuhnya pada keputusan pusat.
Menariknya, di balik tekanan fiskal tersebut, Lombok Timur justru mencatatkan capaian membanggakan. Dalam periode terakhir, daerah ini berhasil meraih tujuh hingga delapan penghargaan tingkat nasional.
Penghargaan tersebut tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga disertai dana apresiasi sebagai insentif atas kinerja tata kelola pemerintahan yang dinilai baik. Capaian ini menjadi sinyal bahwa inovasi dan efektivitas birokrasi tetap bisa tumbuh, bahkan dalam ruang fiskal yang terbatas.
Bagi generasi muda yang kerap kritis terhadap transparansi dan akuntabilitas, capaian ini menjadi pesan penting: keterbatasan bukan alasan untuk stagnan. Menutup sambutannya, Bupati Iron mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut mendoakan kelancaran roda pemerintahan serta keberlanjutan pelayanan publik.
“Mari kita berdoa agar pemerintah Lombok Timur dapat berjalan dengan baik dan semua kebutuhan masyarakat bisa kita jaga dan layani,” pungkasnya.
Safari Ramadan tahun ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang refleksi kolektif. Di antara doa dan kebersamaan, terselip tantangan fiskal yang nyata—serta optimisme untuk tetap melangkah maju membangun Lombok Timur yang tangguh, inklusif, dan relevan dengan zaman.(wnn07)







