JAKARTA, WNN.CO.ID – Program Gogo Rancah (Gora) di masa orde baru, meninggalkan cerita manis bagi masyarakat petani di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Namun, setelah berakhirnya orde baru, nyaris tak terdengar lagi program unggulan pertanian yang mampu mengantarkan Indonesia meraih swasembada nasional.
Pemerintah daerah (Pemda) seharusnya banyak belajar dari peninggalan pemerintahan di era Presiden Soeharto dahulu. Salah satunya adalah sektor unggulan di bidang pertanian yang membawa Indonesia swasembada pangan nasional.
Program pertanian pada waktu itu juga ditopang dengan penguatan Koperasi Unit Desa (KUD). Dulu, hampir setiap kecamatan punya gudang gabah KUD yang menjadi sentra bisnis pertanian.
‘’Dulu Gogo Rancah dan bawang putih adalah keberhasilan dari Gubernur NTB, Gatot Suherman di zaman Soeharto. Juga penyusunan master plant pariwisata NTB, swasembada pangan berhasil dengan dukungan KUD yang massif. Tapi, sekarang sistem lumbung rakyat habis,’’ kata Sekretaris Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi NTB, Abdul Rasyid Zaenal, di Jakarta, Selasa (12/9/2023).
Rasyid Lombok, demikian Sekretaris JMSI NTB ini biasa disapa mengakui salah satu keberhasilan di masa Presiden Soeharto adalah penemuan sistem padi Gogo Rancah (Gora). Di mana, program tersebut mampu mengantarkan NTB menjadi daerah swasembada pangan nasional, bahkan meluas sampai dunia.
‘’Pada tahun 1985 lalu, keberhasilan program Gora mendapat pengakuan dari Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO),’’ ucapnya.
Rasyid Lombok menjelaskan, keberhasilan sistem Gora waktu itu, bukan kebetulan. Tapi, melibatkan seluruh lapisan masyarakat, baik dari kalangan akademisi dan pemerintah.
Namun, Rasyid Lombok sangat menyayangkan program Gora tersebut tidak dilanjutkan oleh pemerintah daerah (Pemda) setelah rezim Presiden Soeharto. Kesal dengan kondisi pemerintahan saat ini, Rasyid Lombok menyarankan agar program Gora yang kini sudah tidak memiliki arti signifikan, sebaiknya dicabut.
Manfaat Gora saat ini, ungkap Rasyid Lombok, tidak seperti dahulu yang membawa Indonesia swasembada pangan. ‘’Lahan-lahan produktif di Kota Mataram saja, sekarang sudah berubah menjadi perumahan dan ruko-ruko. Hampir setiap tahunnya sekitar 25-30 hektare lahan pertanian beralih fungsi menjadi kawasan pembangunan,’’ ungkapnya.(wnn01)







