JAKARTA, WNN.CO.ID – Ramadan tahun ini terasa lebih berdenyut di Masjid Syajaratun Thoyyibah yang berdiri di halaman Kantor DPP Partai Golkar. Sejak hari pertama bulan suci, ratusan anak memadati ruang-ruang masjid untuk mengikuti Pesantren Ramadan—sebuah ruang belajar yang tak hanya mengasah ilmu, tetapi juga menumbuhkan karakter.
Antusiasme publik mencatatkan capaian tersendiri. Dalam hitungan setengah hari, sebanyak 286 santri—mulai dari tingkat SD hingga SMP—resmi terdaftar. Program ini kemudian dibagi ke dalam 12 kelompok besar, didampingi 16 tenaga pengajar profesional di bawah koordinasi Ustadz Samianto.
Bagi generasi yang lahir di era serba digital, model pembelajaran seperti ini menjadi semacam safe space—tempat mereka terkoneksi bukan lewat gawai, tetapi lewat nilai, dialog, dan keteladanan.
Memasuki hari ketujuh Ramadan, suasana semakin hangat dengan kehadiran Sri Suparni, istri Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia. Kunjungannya dirangkai dalam agenda buka puasa bersama, santunan sosial, serta silaturahmi dengan para pengajar dan jamaah pengajian ibu-ibu masjid.
Dalam dialog yang berlangsung cair dan penuh keakraban, Sri Suparni mengapresiasi konsistensi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dalam membangun fondasi pendidikan karakter berbasis nilai keagamaan.
“Ini bukan sekadar kegiatan musiman Ramadan. Ini adalah gerakan sosial pendidikan yang terstruktur dan dibimbing instruktur profesional. Ikhtiar bersama untuk menyiapkan generasi masa depan yang cerdas, berakhlak, dan berdaya saing,” ujarnya.
Festival Ramadan yang digelar sejak pukul 16.00 WIB hingga malam hari itu menghadirkan rangkaian kegiatan yang inklusif: santunan sosial, dialog inspiratif, buka puasa bersama, hingga salat tarawih berjamaah. Seluruh agenda terlaksana melalui kolaborasi DKM Masjid Syajaratun Thoyyibah dan DPP Partai Golkar.
Ketua DKM, Kiai Dian Assafri—tokoh nasional sekaligus alumnus Pondok Modern Gontor—menyebut program yang kini memasuki tahun kedua tersebut sebagai langkah strategis membangun peradaban berbasis pendidikan spiritual.
“Kami menyambutnya dengan syukur dan kebahagiaan. Harapannya, dukungan dari para pemangku kepentingan terus mengalir agar manfaatnya semakin luas dan menjangkau lebih banyak santri,” tuturnya.
Di tengah tantangan zaman yang bergerak cepat—di mana algoritma kerap lebih dominan daripada nilai—Pesantren Ramadan ini hadir sebagai oase. Ia menyatukan tradisi, pendidikan karakter, dan semangat kolaborasi dalam satu harmoni.
Lebih dari sekadar agenda tahunan, kegiatan ini menjadi simbol bahwa investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya pada sumber daya alam, melainkan pada sumber daya manusianya—anak-anak yang hari ini belajar mengaji, berdiskusi, dan bermimpi tentang masa depan.
Ramadan di Masjid Syajaratun Thoyyibah pun bukan sekadar perayaan spiritual, melainkan pernyataan optimisme: bahwa generasi masa depan Indonesia tengah dipersiapkan dengan nilai, visi, dan semangat kebersamaan.(wnn01)







