SURABAYA, WNN.CO.ID – Pemerintah Indonesia tampaknya kini harus mulai bersiap-siap dalam menghadapi ancaman peningkatan suhu global. Hal ini bila merespon data yang dilansir World Meteorological Organization (WMO) yang memperkirakan intensitas kejadian ekstrem seperti kekeringan dan kelangkaan pangan serta kelaparan global. Bahkan, WMO memprediksi intensitas ancaman tersebut akan semakin tinggi dalam tempo waktu satu hingga lima tahun ke depan.
‘’Artinya, kita harus bersiap dari sekarang memperbaiki lingkungan hidup kita. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan reboisasi dan menyiapkan bioteknologi pertanian,’’ kata Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, di sela-sela kegiatan resesnya di Surabaya, Jawa Timur, Jumat kemarin (4/8/2023).
LaNyalla menjelaskan, ancaman suhu global memicu fenomena ekstrem di beberapa kawasan dunia yang bukan hanya menelan korban jiwa, tetapi juga memberikan pengaruh ekstrem dan menyebabkan gagal panen. ‘’Ancaman kelangkaan pangan pun semakin nyata. Fenomena ini berpotensi meluas ke seantero dunia, termasuk Indonesia,’’ jelas LaNyalla.
Dan hal ini menurut LaNyalla, tak bisa dianggap enteng, karena potensi kelangkaan pangan dapat berlangsung cukup lama dan berdampak sangat serius. Mengingat pangan merupakan kebutuhan mendasar yang bisa memicu terjadinya gejolak di dalam negeri. ‘’Ancaman krisis pangan berdampak sistemik kepada seluruh sektor, baik keamanan, situasi politik dan lain sebagainya. Tentu harus diantisipasi dengan baik dengan skema yang benar,’’ ujarnya.
Seperti diketahui, pada 27 Juli lalu, Sekjen PBB, Antonio Guterres mengumumkan bahwa era pemanasan global telah berakhir dan era pendidihan global telah tiba. Kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat celsius, akan sulit ditahan apabila tidak ada aksi radikal semua negara dan lembaga global.
Catatan WMO dan program Copernicus menunjukkan bahwa rata-rata suhu permukaan bumi sepanjang bulan Juli kemarin melonjak tajam. Rata-rata suhu global hampir mencapai 17 derajat celsius. Angka ini terpaut cukup jauh dengan catatan suhu terpanas sebelumnya, yakni pada Juli 2019 lalu yang berkisar 16,63 derajat celsius.
Data pantauan iklim global menunjukkan bahwa Juli 2023 telah mencatatkan sejumlah fenomena alam yang ekstrem. WMO melaporkan adanya periode tiga minggu terpanas sepanjang sejarah, rekor tiga hari terpanas (5-7 Juli) dan temperatur suhu lautan tertinggi selama 12 bulan terakhir. WMO memperkirakan intensitas kejadian ekstrem seperti ini akan semakin tinggi. Hampir dapat dipastikan rekor terpanas suhu global akan tercapai lagi sepanjang 1-5 tahun ke depan.(wnn01)







