JAKARTA, WNN.CO.ID – Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita menargetkan nilai ekspor batik selama tahun 2023 bisa menembus angka USD100 juta. Target angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai USD 64,56 juta.
‘’Pada periode Januari hingg April 2023, nilai ekspor batik dan produk batik kita mencapai sebesar USD 26,7 juta,’’ kata Menperin, Agus Gumiwang Kartasasmita di sela-sela acara Pameran Gelar Batik Nusantara (GBN) 2023, di Senayan Park, Jakarta Pusat, Rabu (2/8/2023).
Menperin optimistis, kinerja industri batik akan semakin tumbuh, terlebih lagi setelah lepas dari dampak pandemi Covid-19. Selain itu, sinyal positif menggeliatnya ekonomi juga diberikan oleh IMF yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2023 mencapai 3 persen. Meningkat dari perkiraan sebelumnya, dari proyeksi April lalu (2,8 persen).
Karenanya, dalam upaya pengembangan industri batik, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak, seperti asosiasi, pelaku usaha, desainer, akademisi, e-commerce hingga influencer untuk dapat mengembangkan, memperkenalkan serta mempromosikan potensi kekayaan batik dalam negeri.
‘’Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pengrajin, desainer, pelaku industri, serta pecinta dan pemakai batik yang selama ini berkreasi menciptakan, memproduksi, dan menggunakan batik sebagai karya adiluhung bangsa kita,’’ ujarnya.
Batik Nusantara, menurut Menperin, memiliki keunggulan dan daya saing yang tinggi karena motif, desain, dan coraknya yang inovatif dengan berbasis kearifan lokal. ‘’Saat ini terdapat empat Indikasi Geografis Batik, yaitu Batik Tulis Nitik Yogyakarta, Batik Besurek Bengkulu, Sarung Batik Pekalongan, dan Batik Tulis Complongan Indramayu. Indikasi geografis batik merupakan bentuk perlindungan terhadap kekayaan intelektual atau motif batik yang jadi ciri khas suatu daerah,’’ ungkapnya.
Menperin berharap komunitas batik agar bisa mendaftarkan produknya kepada Kemenkumham dan pada tahun ini akan ada tambahan dua Indikasi Geografis batik, yaitu Batik Sogan Solo dan Batik Tuban. Ini kegiatannya bottom up, harus diajukan komunitas. ‘’Oleh sebab itu, kami bina komunitasnya bersama Yayasan Batik Indonesia,’’ ucapnya.
Tradisi memakai batik harus digalakkan sebagai wujud kehormatan pada kearifan lokal. Selain itu, batik memiliki nilai seni yang tinggi sehingga bisa digunakan di berbagai kesempatan, baik acara resmi maupun kasual. ‘’Ada makna dalam kebiasaan kita menggunakan batik baik dari aspek fesyen, sosial budaya, dan ekonomi,’’ jelasnya.
Gelar Batik Nusantara 2023 yang berlangsung pada 2-6 Agustus 2023 di Senayan Park, Jakarta Pusat ini, diselenggarakan oleh Yayasan Batik Indonesia, dan diikuti oleh lebih dari 250 peserta.(wnn01)







